
Jakarta – Lemak visceral merupakan jenis lemak yang perlu diperhatikan karena menumpuk di sekitar organ-organ penting di dalam rongga perut. Selain dapat memengaruhi bentuk tubuh, jumlah lemak visceral yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Menjaga pola makan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrolnya. Sayuran dapat dimasukkan ke dalam menu sehari-hari karena sejumlah jenis sayuran memiliki kandungan serat, antioksidan, serta nutrisi lain yang mendukung kesehatan tubuh.
Dikutip dari Eating Well, berikut beberapa sayuran yang dapat menjadi bagian dari pola makan untuk membantu menjaga kadar lemak visceral.
1. Kol Ungu
Kol ungu memiliki warna khas berkat kandungan antosianin, yaitu senyawa antioksidan yang berpotensi mendukung proses pembakaran lemak dan membantu menargetkan lemak visceral.
Para peneliti menduga antosianin juga dapat memengaruhi mikrobiota atau bakteri baik di dalam usus yang berkaitan dengan metabolisme lemak. Meski demikian, kaitan tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Olahan seperti kimchi juga disebut berpotensi mendukung pengurangan lemak visceral karena mengandung probiotik alami.
“Kimchi kaya probiotik, terutama strain Lactobacillus, yang dikaitkan dengan berkurangnya lemak visceral,” jelas Jessie Gutsue, M.A., RDN, IFNCP.
2. Artichoke
Artichoke dikenal sebagai salah satu sayuran yang memiliki kandungan serat tinggi. Serat dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama sehingga berpotensi membantu mengurangi asupan kalori.
Selain memberikan efek mengenyangkan, serat juga mendukung pertumbuhan bakteri baik di saluran pencernaan. Mikroorganisme tersebut berperan dalam menjaga berat badan dan mendukung metabolisme lemak, termasuk lemak visceral.
Jika artichoke sulit ditemukan di Indonesia, buncis dapat menjadi alternatif yang lebih mudah diperoleh dan juga menyediakan serat dalam jumlah cukup tinggi.
3. Bayam
Bayam merupakan sayuran rendah kalori yang kaya akan serat dan berbagai senyawa antioksidan, seperti lutein, zeaxanthin, beta karoten, serta karotenoid lainnya.
Karotenoid memiliki sifat antioksidan yang membantu melawan peradangan. Senyawa tersebut juga diduga memiliki kaitan dengan proses penumpukan lemak.
“Karotenoid membantu melawan peradangan dan mungkin berperan dalam memerangi penumpukan lemak,” ujar Allison Knott, M.S., RDN.
Kandungan serat dalam bayam juga dapat membantu membuat tubuh merasa kenyang lebih lama. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa asupan karotenoid yang lebih tinggi berkaitan dengan kadar lemak visceral yang lebih rendah.
4. Brussels Sprouts
Brussels sprouts atau kubis Brussel mengandung sulforafan dan karotenoid yang memiliki sifat antioksidan serta antiinflamasi.
Kedua jenis senyawa tersebut berpotensi memberikan perlindungan terhadap penumpukan lemak visceral sekaligus membantu menjaga tubuh dari berbagai penyakit kronis.
Sayuran ini juga menyediakan serat yang dapat membantu mengontrol rasa lapar dan membuat kenyang lebih lama.
Sulforafan yang terdapat dalam Brussels sprouts turut diteliti karena potensinya dalam membantu melindungi tubuh dari sejumlah penyakit, termasuk kanker, diabetes, dan penyakit jantung.
5. Kembang Kol
Kembang kol mengandung glukosinolat yang dapat menghasilkan sulforafan ketika sayuran tersebut dikunyah. Senyawa ini dikaitkan dengan berbagai manfaat, termasuk membantu mengurangi peradangan dan mendukung sensitivitas insulin.
Bagi orang yang kurang menyukai kembang kol, brokoli dapat menjadi pilihan lain. Brokoli juga relatif rendah kalori serta mengandung serat dan antioksidan yang dapat membantu mengontrol nafsu makan.
“Brokoli rendah kalori dan kaya serat pengontrol nafsu makan serta antioksidan yang mengurangi peradangan,” jelas Sheri Gaw, RDN, CDCES.
Tetap Perhatikan Pola Makan
Mengonsumsi sayuran saja tidak secara otomatis menghilangkan lemak visceral. Namun, memasukkan sayuran kaya serat dan nutrisi ke dalam pola makan seimbang dapat menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga berat badan dan kesehatan metabolisme.
Lemak visceral sendiri berbeda dengan lemak yang berada tepat di bawah kulit karena letaknya lebih dalam dan mengelilingi organ-organ di dalam perut. Karena itu, menjaga pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup secara keseluruhan tetap penting untuk membantu mengendalikan jumlah lemak tersebut.
