Seperti apa kegiatan si kakek selama menjadi influencer kecantikan?

Liputan6.com, Beijing – Seorang kakek berusia berusia 75 tahun di Provinsi Jiangsu, China, menjadi influencer kecantikan untuk mengumpulkan dana pengobatan cucunya.
Sang cucu dilaporkan mengidap penyakit genetik langka, atrofi otot tulang belakang atau spinal muscular atrophy (SMA).
Zhu Yunchang menjalani hari-harinya dengan merawat sang cucu yang kini berusia sembilan tahun, Cao Jingyan. Pada malam hari, ia melakukan siaran langsung di media sosial untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Zhu biasanya melakukan siaran langsung hingga tengah malam. Selama itu pula, sang istri setia menemaninya, dikutip dari laman Oddity Central, Senin (29/6/2026).
Dana yang diperoleh digunakan untuk membiayai pengobatan Jingyan berupa suntikan yang menelan biaya sekitar 1,4 juta yuan atau sekitar 206 ribu dolar AS per tahun.
Dalam siaran langsungnya, Zhu kerap terlihat mencoba berbagai produk kosmetik. Ia merias wajahnya sendiri dan membandingkan warna lipstik di lengannya layaknya kreator konten kecantikan.
Putrinya, Zhu Wei, mengatakan sang ayah bahkan lebih mahir menggunakan riasan dibanding dirinya.
Menurut Zhu, keputusan merawat cucunya bukan semata karena hubungan sebagai kakek dan cucu, tetapi juga karena tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.
“Saya memikul tanggung jawab ini bukan hanya karena saya seorang kakek, tetapi juga karena saya seorang ayah,” ujarnya.
Jingyan didiagnosis mengidap SMA saat masih berusia enam bulan, sembilan tahun lalu. Penyakit genetik langka tersebut menyerang neuron motorik di sumsum tulang belakang sehingga menyebabkan kelemahan otot secara progresif dan gangguan pernapasan.
Prediksi Usia Hidup

Jingyan menderita SMA Tipe 1, bentuk paling parah dari penyakit tersebut.
Dokter saat itu memberi tahu Zhu Wei bahwa putranya diperkirakan hanya mampu bertahan hidup hingga usia 18 bulan.
Kabar tersebut membuat Zhu Wei terpukul hingga kondisi mentalnya memburuk. Melihat keadaan putrinya, Zhu Yunchang memutuskan mengambil alih perawatan Jingyan.
“Dia adalah satu-satunya putriku. Jika sesuatu terjadi padanya, seluruh keluarga saya akan hancur,” katanya.
Untuk merawat sang cucu, Zhu bahkan mendatangi bagian rehabilitasi di rumah sakit anak setempat dan berpura-pura menjadi anggota keluarga pasien lain agar dapat mempelajari teknik pijat dari para terapis.
Setelah menguasai keterampilan tersebut, ia rutin memijat Jingyan setiap hari.
Bahkan saat dirinya sakit, Zhu tetap melakukan rutinitas itu dengan mengenakan beberapa lapis masker agar tidak menularkan penyakit kepada cucunya.
