
Jakarta – Kopi masih menjadi pilihan utama banyak orang untuk mengawali hari. Selain membantu meningkatkan energi, minuman ini juga dikenal memiliki sejumlah manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai.
Tak sedikit penelitian yang mengaitkan konsumsi kopi dengan manfaat bagi tubuh, termasuk membantu menjaga kesehatan kulit. Namun, manfaat tersebut bisa berkurang jika kopi dikonsumsi bersama bahan tambahan tertentu dalam jumlah berlebihan.
Bahan seperti krimer, gula, maupun pemanis buatan yang sering dicampurkan ke dalam kopi ternyata berpotensi memengaruhi kondisi kulit. Kandungan di dalamnya dapat mempercepat kerusakan kolagen dan elastin, sehingga tanda-tanda penuaan muncul lebih cepat.
Mengutip Newsweek, berikut penjelasan dokter spesialis kulit mengenai bahan tambahan pada kopi yang sebaiknya dibatasi.
1. Kopi Bukan Musuh Utama bagi Kulit
Bagi sebagian besar orang, secangkir kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas pagi. Dalam takaran yang wajar, kopi bahkan dikaitkan dengan manfaat antioksidan yang baik untuk tubuh.
Dermatolog kosmetik Dr. Nora Jaafar menjelaskan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada kopi, melainkan bahan pelengkap yang sering ditambahkan.
Menurutnya, kafein memiliki dua sisi. Saat digunakan pada produk perawatan kulit, kafein bekerja sebagai antioksidan. Namun jika dikonsumsi secara berlebihan, kafein dapat meningkatkan hormon kortisol yang berkontribusi terhadap kerusakan kolagen.
Kenaikan hormon stres tersebut dapat membuat kulit kehilangan kelembapan, tampak kusam, dan mengalami penuaan lebih cepat. Karena itu, komposisi minuman kopi juga perlu diperhatikan, bukan hanya jumlah kopinya.
2. Apa Saja Isi Krimer Kopi?
Krimer menjadi salah satu tambahan favorit karena mampu menghasilkan rasa lebih gurih dan tekstur lebih lembut. Meski demikian, produk ini umumnya mengandung sejumlah bahan yang kurang ideal jika dikonsumsi terlalu sering.
Beberapa kandungan yang lazim ditemukan pada krimer antara lain minyak terhidrogenasi, padatan sirup jagung, dan bahan pengemulsi sintetis. Minyak terhidrogenasi berfungsi memperpanjang masa simpan, sedangkan padatan sirup jagung digunakan sebagai pemanis. Emulsifier ditambahkan agar tekstur krimer tetap stabil.
Walau aman digunakan sesuai batas konsumsi, penggunaan krimer berlebihan dalam jangka panjang dinilai kurang baik, termasuk bagi kesehatan kulit.
3. Mengapa Krimer Bisa Berdampak pada Kulit?
Dr. Nora Jaafar menjelaskan bahwa setiap komponen dalam krimer dapat memengaruhi kesehatan kulit melalui mekanisme yang berbeda.
Minyak terhidrogenasi disebut dapat melemahkan lapisan pelindung kulit sehingga kulit menjadi lebih kering dan sensitif. Sementara itu, kandungan sirup jagung dapat meningkatkan kadar gula darah yang memicu proses glikasi, yakni kerusakan kolagen dan elastin akibat ikatan gula berlebih.
Tak hanya itu, emulsifier sintetis juga diduga dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus. Kondisi tersebut berpotensi memicu peradangan yang akhirnya muncul pada kulit, seperti jerawat, kemerahan, hingga rosacea.
Karena bekerja melalui berbagai mekanisme sekaligus, konsumsi krimer berlebihan dinilai dapat mempercepat munculnya masalah kulit.
4. Pilihan Pengganti yang Lebih Ramah untuk Kulit
Bagi pencinta kopi, tidak harus menghentikan kebiasaan minum kopi sepenuhnya. Mengganti krimer dengan bahan yang lebih alami bisa menjadi solusi sederhana.
Dr. Nora Jaafar menyarankan penggunaan susu full cream atau susu oat tanpa tambahan gula sebagai alternatif. Selain itu, matcha juga dinilai dapat menjadi pilihan minuman yang lebih bersahabat bagi kesehatan kulit.
Menurutnya, matcha mengandung kombinasi kafein dan L-theanine yang membantu menjaga energi tetap stabil tanpa memicu lonjakan kortisol berlebihan. Minuman ini juga kaya antioksidan yang berperan melindungi sel-sel kulit dari kerusakan.
Ia juga menyebut konsumsi bahan alami seperti herbal maupun jamur adaptogen, misalnya ashwagandha dan maca, dapat membantu tubuh mengelola stres yang berkontribusi terhadap munculnya berbagai masalah kulit.
