
Jakarta – Diet telur rebus menjadi salah satu metode penurunan berat badan yang banyak diperbincangkan karena dianggap sederhana dan mampu memberikan hasil dalam waktu singkat. Meski telur merupakan makanan bergizi, para ahli mengingatkan bahwa menjalani pola makan yang terlalu bergantung pada satu jenis makanan juga memiliki risiko.
Dikutip dari mStar, telur memang kaya protein dan dapat memberikan rasa kenyang lebih lama. Namun, apabila dikonsumsi sebagai menu utama tanpa diimbangi sumber karbohidrat, serat, vitamin, maupun mineral dari makanan lain, tubuh berpotensi mengalami kekurangan zat gizi.
Laman Public Health Malaysia melalui akun Facebook resminya juga menyoroti tren tersebut. Mereka menegaskan bahwa telur merupakan superfood yang murah, bergizi, dan layak menjadi bagian dari pola makan seimbang. Namun, menjadikannya sebagai satu-satunya sumber makanan bukanlah pilihan yang disarankan.
Berikut beberapa dampak yang dapat muncul apabila diet telur rebus dilakukan secara berlebihan.
1. Berat Badan Turun Belum Tentu karena Lemak Berkurang
Penurunan berat badan pada awal menjalani diet telur rebus sering kali bukan berasal dari pembakaran lemak.
Saat asupan karbohidrat dibatasi secara drastis, tubuh lebih dulu menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi. Glikogen tersimpan bersama air, sehingga ketika cadangan tersebut habis, berat badan ikut turun akibat berkurangnya cairan tubuh, bukan karena lemak terbakar dalam jumlah besar.
2. Risiko Gangguan Pencernaan
Telur memang tinggi protein, tetapi hampir tidak mengandung serat. Jika pola makan minim sayur, buah, dan sumber serat lainnya selama beberapa hari, sistem pencernaan dapat terganggu.
Kondisi tersebut berisiko menyebabkan sembelit karena tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Selain itu, pembatasan karbohidrat yang ekstrem dapat memicu ketosis, yaitu kondisi ketika tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini menghasilkan senyawa keton yang dapat menyebabkan bau napas menyerupai aseton.
3. Metabolisme Berpotensi Melambat
Diet yang terlalu rendah kalori dalam waktu lama dapat membuat tubuh memasuki kondisi yang sering disebut sebagai mode kelaparan. Dalam keadaan ini, tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga mulai memecah massa otot untuk memenuhi kebutuhan energi.
Berkurangnya massa otot dapat memperlambat laju metabolisme. Akibatnya, ketika seseorang kembali ke pola makan normal setelah diet selesai, berat badan lebih mudah naik kembali. Fenomena ini dikenal sebagai efek yo-yo, yaitu berat badan yang kembali meningkat setelah sempat turun drastis.
Meski telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi, para ahli menyarankan agar diet tetap dilakukan dengan pola makan yang beragam dan seimbang. Mengombinasikan telur dengan sayuran, buah, karbohidrat kompleks, serta sumber lemak sehat dinilai lebih baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sekaligus mendukung penurunan berat badan yang lebih aman dan berkelanjutan.
