
Jakarta – Minyak goreng kerap mendapat citra buruk karena penggunaannya yang berlebihan dapat meningkatkan asupan lemak dan kalori. Namun, penelitian terbaru justru menemukan adanya hubungan menarik antara kandungan asam linoleat dalam minyak berbahan biji-bijian dengan sejumlah indikator kesehatan.
Minyak yang berasal dari biji-bijian, seperti bunga matahari, canola, dan wijen, diketahui mengandung asam linoleat. Senyawa ini merupakan salah satu jenis asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan tubuh.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena selama ini minyak biji-bijian sering dikaitkan dengan anggapan dapat meningkatkan peradangan dan risiko gangguan kardiometabolik.
Dalam pertemuan tahunan American Society for Nutrition, peneliti memaparkan hasil pengamatan mengenai hubungan kadar asam linoleat dalam darah dengan sejumlah penanda kesehatan.
Melibatkan Hampir 2.000 Orang
Dikutip dari New York Post, penelitian tersebut melibatkan sekitar 1.900 partisipan. Para peneliti tidak hanya mengandalkan catatan makanan atau kuesioner untuk mengetahui asupan asam linoleat.
Sebaliknya, kadar asam linoleat diukur secara langsung melalui plasma darah para partisipan. Peneliti juga memeriksa berbagai biomarker yang berkaitan dengan peradangan dan metabolisme glukosa.
Kevin C. Maki, profesor dari Indiana University di Bloomington’s School of Public Health, mengatakan penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih objektif mengenai hubungan asam linoleat dengan faktor risiko kardiometabolik.
Kadar Asam Linoleat Lebih Tinggi, Profil Risiko Lebih Baik
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa partisipan dengan kadar asam linoleat lebih tinggi dalam darah cenderung memiliki profil risiko yang lebih baik terhadap penyakit kardiometabolik.
Kadar asam linoleat yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan sejumlah biomarker yang berhubungan dengan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2, termasuk biomarker peradangan.
Menurut Maki, temuan tersebut menarik karena penelitian menggunakan indikator biologis yang diukur langsung, bukan sekadar memperkirakan pola makan berdasarkan laporan peserta.
Dengan kata lain, penelitian ini memberikan gambaran mengenai kemungkinan hubungan antara konsumsi asam linoleat dan kondisi metabolisme tubuh.
Bukan Berarti Minyak Goreng Bisa Mencegah Diabetes
Meski hasilnya cukup menarik, temuan tersebut belum bisa diartikan bahwa mengonsumsi minyak goreng secara langsung dapat mencegah diabetes.
Penelitian ini menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami bagaimana asam linoleat memengaruhi peradangan, metabolisme gula darah, serta kesehatan jantung dalam jangka panjang.
Para peneliti juga menilai diperlukan pengamatan lebih jauh mengenai efek asam linoleat terhadap tubuh karena mekanismenya cukup kompleks.
Minyak Biji-bijian Tidak Selalu Harus Dihindari
Di sisi lain, sejumlah ahli menilai minyak yang berasal dari biji-bijian tidak otomatis menjadi pilihan yang buruk.
Kerry Beeson, terapis nutrisi di Prep Kitchen, mengatakan minyak biji-bijian umumnya memiliki kandungan lemak jenuh yang relatif rendah sehingga dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Namun, bukan berarti penggunaannya boleh berlebihan. Minyak tetap menyumbang kalori sehingga jumlah yang digunakan ketika memasak perlu diperhatikan.
Tetap Utamakan Pola Makan Seimbang
Daripada hanya berfokus pada satu jenis minyak, lebih baik memperhatikan pola makan secara keseluruhan. Batasi makanan ultra-proses dan makanan yang tinggi kalori, gula, garam, maupun lemak jenuh.
Minyak zaitun dan minyak kelapa juga dapat digunakan sebagai variasi dalam memasak, sesuai kebutuhan dan pola makan masing-masing.
Selain itu, kebutuhan lemak sehat dapat diperoleh langsung dari makanan seperti ikan dan kacang-kacangan yang juga menyediakan asam lemak omega-3 serta berbagai nutrisi penting.
Jadi, temuan mengenai asam linoleat memang membuka perspektif baru tentang minyak biji-bijian. Namun, belum tepat jika menyimpulkan bahwa minyak goreng dapat mencegah diabetes. Yang paling penting tetap menjaga pola makan beragam, mengontrol porsi, dan menerapkan gaya hidup sehat secara menyeluruh.
