
Jakarta – Berbagai informasi tentang makanan dan kesehatan mudah menyebar di media sosial. Sayangnya, tidak semua klaim yang terdengar meyakinkan didukung bukti ilmiah yang kuat.
Mulai dari anggapan bahwa daging merah bisa menyebabkan demensia hingga larangan mengolah pisang menjadi smoothie, sejumlah mitos makanan masih dipercaya banyak orang. Padahal, beberapa klaim tersebut perlu dilihat kembali berdasarkan penelitian dan konteksnya.
Dilansir dari Prevention, berikut sejumlah mitos kesehatan tentang makanan yang ternyata tidak sepenuhnya benar.
1. Pisang Tidak Boleh Dibuat Smoothie
Pisang sempat menjadi sorotan karena disebut dapat menghambat penyerapan flavonoid apabila dibuat menjadi smoothie bersama buah tertentu. Klaim ini berasal dari sebuah penelitian yang kemudian ramai dibicarakan.
Namun, penelitian tersebut hanya melibatkan delapan pria sehingga hasilnya belum cukup kuat untuk menjadi dasar larangan mengonsumsi smoothie pisang.
Pisang sendiri tetap merupakan buah bernutrisi. Kandungan kaliumnya bermanfaat untuk membantu menjaga tekanan darah.
Penelitian tersebut hanya menemukan bahwa penyerapan flavonoid dari buah beri dapat berkurang ketika dikonsumsi bersama pisang. Karena itu, bukan berarti pisang harus dihindari. Buah yang kaya flavonoid tetap dapat dikonsumsi pada waktu berbeda.
2. Semua Produk Olahan Tidak Sehat
Istilah makanan olahan sering kali disamakan dengan makanan yang tidak sehat. Padahal, pengolahan makanan memiliki cakupan yang luas.
Menurut United States Department of Agriculture (USDA), makanan yang dibekukan, dipotong, dikalengkan, atau dipanaskan juga termasuk makanan olahan. Artinya, sayuran beku, buah potong, hingga ikan kaleng tidak otomatis menjadi pilihan buruk.
Yang lebih perlu diperhatikan adalah makanan ultra-olahan yang umumnya mengandung banyak gula, garam, lemak, serta bahan tambahan tertentu. Konsumsi berlebihan jenis makanan ini memang dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.
Untuk pilihan sehari-hari, utamakan sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang minim lemak. Produk kemasan juga masih dapat dikonsumsi selama memilih jenis dengan komposisi yang lebih sederhana.
3. Daging Merah Pasti Memicu Demensia
Daging merah sering disebut sebagai salah satu makanan yang dapat meningkatkan risiko gangguan otak. Namun, anggapan tersebut perlu dibedakan antara daging merah segar dan daging merah olahan.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 130.000 orang selama puluhan tahun menemukan adanya hubungan antara konsumsi daging merah olahan dan peningkatan risiko demensia. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak daging olahan juga menunjukkan fungsi kognitif yang lebih rendah serta tanda penuaan otak yang lebih cepat.
Menurut ahli saraf Jasmin Dao, kandungan lemak jenuh dan natrium yang tinggi pada produk seperti bacon, sosis, dan salami dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
Sementara itu, daging merah segar tidak serta-merta harus dihilangkan dari pola makan. Konsumsinya tetap dapat dilakukan secara wajar dengan memilih potongan yang lebih rendah lemak.
4. Minyak Biji-bijian Berbahaya bagi Tubuh
Minyak dari biji-bijian juga kerap menjadi sasaran berbagai klaim kesehatan. Salah satunya anggapan bahwa kandungan omega-6 di dalamnya pasti menyebabkan penyakit.
Faktanya, penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa minyak biji-bijian dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Lemak omega-6 tetap dibutuhkan tubuh dan dapat memberikan manfaat jika dikonsumsi dalam jumlah seimbang.
Asupan lemak tersebut juga dapat dipadukan dengan sumber omega-3, misalnya dari ikan berlemak seperti salmon atau kacang-kacangan seperti walnut.
Kekhawatiran mengenai fitoestrogen pada minyak kedelai juga dinilai berlebihan karena jumlahnya relatif kecil. Meski demikian, minyak sebaiknya tidak digunakan hingga mencapai kondisi berasap karena pemanasan berlebihan dapat menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.
5. Cokelat Mengandung Logam Berat sehingga Harus Dihindari
Kabar mengenai keberadaan kadmium dan timbal dalam produk cokelat memang pernah ditemukan melalui penelitian. Namun, hal tersebut tidak berarti semua cokelat berbahaya dan harus dihindari.
Kadmium dapat berasal dari tanah tempat tanaman kakao tumbuh, sedangkan timbal dapat masuk selama proses panen maupun pengolahan. Paparan logam berat dalam jumlah tinggi memang perlu diwaspadai, tetapi konsumsi cokelat dalam porsi wajar tidak otomatis menimbulkan masalah.
Dark chocolate tetap dapat dinikmati, terutama dengan memperhatikan porsinya. Sekitar 30 gram per hari dapat menjadi salah satu batas konsumsi yang lebih terkendali, sekaligus membantu menghindari asupan gula dan lemak secara berlebihan.
Jangan Langsung Percaya Klaim Kesehatan
Berbagai informasi tentang makanan sebaiknya tidak langsung dipercaya hanya karena terdengar meyakinkan atau sedang viral. Hasil sebuah penelitian juga perlu dilihat dari jumlah peserta, metode penelitian, serta konteks yang digunakan.
Pada akhirnya, tidak banyak makanan yang harus langsung dicap sebagai “berbahaya” atau “sepenuhnya sehat”. Porsi, frekuensi, cara pengolahan, dan pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting untuk diperhatikan.
